Jalan Malioboro

Siapa yang tidak tahu nama Malioboro.? Pasti banyak yang sudah tidak asing, terutama bagi siapa saja yang pernah singgah di Yogyakarta. Bahkan sebagian orang serasa belum lengkap ketika datang ke Jogja belum mampir ke Malioboro.

Malioboro adalah nama salah satu jalan yang berada di pusat kota Yogyakarta. Jalan Malioboro adalah nama salah satu jalan dari tiga jalan yang membentang dari Tugu Yogyakarta hingga ke perempatan Kantor Pos Yogyakarta atau titik 0 kilometer.

Sejarah Jalan Malioboro

Menurut wikipedia: Jalan Malioboro (bahasa Jawa: ꦢꦭꦤ꧀ꦩꦭꦶꦪꦧꦫ, translit. Dalan Maliabara) adalah nama salah satu kawasan jalan dari tiga jalan di Kota Yogyakarta yang membentang dari Tugu Yogyakarta hingga ke perempatan Kantor Pos Yogyakarta. Secara keseluruhan terdiri dari Jalan Margo Utomo, Malioboro, dan Margo Mulyo. Ini merupakan jalan poros Garis Imajiner Kraton Yogyakarta.

Jalan Malioboro didirikan bertepatan dengan pendirian Kraton Yogyakarta. Dalam bahasa Sansekerta, kata “malioboro” bermakna karangan bunga. Hal itu mungkin ada hubungannya dengan masa lalu ketika Kraton mengadakan acara besar maka Jalan Malioboro akan dipenuhi dengan bunga. Kata malioboro juga berasal dari nama seorang kolonial Inggris yang bernama Marlborough yang pernah tinggal disana pada tahun 1811-1816 M.

Awalnya Jalan Malioboro ditata sebagai sumbu imaginer antara Pantai Selatan (Pantai Parangkusumo) – Kraton Yogya – Gunung Merapi. Malioboro mulai ramai pada era kolonial 1790 saat pemerintah Belanda membangun benteng Vredeburg pada tahun 1790 di ujung selatan jalan ini.

Selain membangun benteng, Belanda juga membangun Dutch Club tahun 1822. The Dutch Governor’s Residence tahun 1830. Java Bank dan Kantor Pos tak lama setelahnya. Setelah itu Malioboro berkembang kian pesat karena perdagangan antara orang belanda dengan pedagang Tionghoa. Tahun 1887 Jalan Malioboro dibagi menjadi dua dengan didirikannya tempat pemberhentian kereta api yang kini bernama Stasiun Tugu Yogya.

Pesona Malioboro

Jalan Malioboro sangat terkenal dengan para pedagang kaki lima yang menjajakan kerajinan khas Jogja. Seperti: pakaian batik, asesoris, kerajinan tangan, tas-tas etnik, sandal, serta barang-barang lainnya yang menjadi ciri khas kota Yogyakarta.

Selain pedagang kaki lima, di kawasan jalan Malioboro ini juga terdapat deretan toko maupun mall. Salah satu mall besar yang berada di sini adalah Malioboro Mall.

Baik pedagang kaki lima maupun toko-toko ini buka dari pagi hingga malam hari. Asal pandai menawar, cendera mata dan barang kerajinan tersebut bisa dibeli dengan harga murah. Ini yang menjadi tantangan untuk wisatawan berbelanja di sini.

Saat malam hari, maka di jalan Malioboro akan dipenuhi oleh warung lesehan yang menjajakan makanan khas Yogyakarta. Seperti: gudeg, angkringan, wedang ronde, dll.

Di kawasan jalan Maloboro ini juga dijadikan tempat berkumpul atau tempat nongkrong bagi muda-mudi. Serta terkenal sebagai tempat berkumpulnya para seniman yang sering mengekspresikan kemampuan mereka. Seperti: bermain musik, melukis, hapening art, pantomim, dan lain-lain di sepanjang jalan ini.

Obyek Bersejarah di Kawasan Malioboro

Terdapat beberapa objek bersejarah di kawasan tiga jalan ini antara lain: Tugu Yogyakarta, Stasiun Tugu, Gedung Agung, Pasar Beringharjo, Benteng Vredeburg, Gedung Agung dan Monumen Serangan Umum 1 Maret.

1. Gedung Agung

Istana Yogyakarta yang dikenal dengan nama Gedung Agung (bahasa Jawa: ꦒꦼꦝꦺꦴꦁꦄꦒꦼꦁ, translit. Gedhong Ageng) terletak di pusat keramaian kota. Tepatnya di ujung selatan Jalan Ahmad Yani dahulu dikenal dengan Jalan Margomulyo. Kawasan istana terletak di Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta. Dan berada pada ketinggian 120 m dari permukaan laut. Kompleks istana ini menempati lahan seluas 43.585 m².

Gedung utama kompleks istana ini mulai dibangun pada Mei 1824 yang diprakarsai oleh Anthony Hendriks Smissaerat. Residen Yogyakarta ke-18 (1823 – 1825) yang menghendaki adanya “istana” yang berwibawa bagi residen-residen Belanda sedangkan arsiteknya adalah A. Payen.

Karena adanya Perang Diponegoro atau Perang Jawa (1825 – 1830) pembangunan gedung itu tertunda. Pembangunan tersebut diteruskan setelah perang tersebut berakhir yang selesai pada 1832. Pada 10 Juni 1867, kediaman resmi residen Belanda itu ambruk karena gempa bumi. Bangunan baru pun didirikan dan selesai pada 1869. Ini adalah bangunan yang menjadi gedung utama komplek Istana Kepresidenan Yogyakarta yang sekarang disebut juga Gedung Negara.

Pada 19 Desember 1927, status administratif wilayah Yogyakarta sebagai karesidenan ditingkatkan menjadi provinsi. Di mana Gubernur menjadi penguasa tertinggi. Dengan demikian gedung utama menjadi kediaman para gubernur Belanda di Yogyakarta sampai masuknya Jepang.

6 Januari 1946, “Kota Gudeg” ini menjadi ibu kota baru Republik Indonesia yang masih muda. Dan istana itu berubah menjadi Istana Kepresidenan, tempat tinggal Presiden Soekarno beserta keluarganya. Sedangkan Wakil Presiden Mohammad Hatta tinggal di gedung yang sekarang ditempati Korem 072/Pamungkas.

19 Desember 1948, Yogyakarta diserang oleh tentara Belanda di bawah pimpinan Jenderal Spoor. Presiden, Wakil Presiden dan para pembesar lainnya diasingkan ke luar Jawa dan baru kembali ke Istana Yogyakarta pada 6 Juli 1949. Sejak 28 Desember 1949, yaitu dengan berpindahnya Presiden ke Jakarta, istana ini tidak lagi menjadi tempat tinggal sehari-hari Presiden. (sumber dari: wikipedia)

2. Benteng Vredeburg

Adalah sebuah benteng yang terletak di depan Gedung Agung. Dan masih dekat dengan Kraton Kesultanan Yogyakarta. Sekarang, benteng ini menjadi sebuah museum. Di sejumlah bangunan di dalam benteng ini terdapat diorama mengenai sejarah Indonesia.

Benteng Vredeburg Yogyakarta berdiri terkait erat dengan lahirnya Kasultanan Yogyakarta. Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755 yang berhasil menyelesaikan perseteruan antara Susuhunan Pakubuwono III dengan Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwono I kelak). Adalah merupakan hasil politik Belanda yang selalu ingin ikut campur urusan dalam negeri raja-raja Jawa waktu itu (sumber dari wikipedia).

Tempat wisata Yogyakarta ini berdekatan letaknya dengan kraton, gedung Agung, pasar Beringharjo dan Malioboro.

3. Monumen Serangan Umum 1 Maret

Monumen Serangan Umum 1 Maret dibangun bertujuan untuk memperingati serangan tentara Indonesia terhadap Belanda pada tanggal 1 Maret 1949 jam 6 pagi setelah sirine penanda jam malam selesai.

Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah serangan yang terjadi pada tanggal 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Penyerangan ini telah dipersiapkan oleh jajaran tertinggi militer di wilayah Divisi III/GM III dengan mengikutsertakan pimpinan pemerintah sipil setempat berdasarkan instruksi dari Panglima Divisi III, Kol. Bambang Sugeng.

Serangan ini bertujuan untuk membuktikan kepada dunia internasional bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih ada dan cukup kuat. Dengan harapan dapat memperkuat posisi Indonesia dalam perundingan yang sedang berlangsung di Dewan Keamanan PBB. Perundingan tersebut memiliki tujuan utama untuk mematahkan moral pasukan Belanda serta membuktikan pada dunia internasional bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih mempunyai kekuatan untuk mengadakan perlawanan. Soeharto pada waktu itu menjabat sebagai Komandan Brigade X/Wehrkreis III turut serta sebagai pelaksana lapangan di wilayah Yogyakarta (sumber dari: wikipedia).

Kronologi Serangan Umum 1 Maret 1949

Pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan serangan ke Ibu Kota Yogyakarta dalam Agresi Militer yang kedua. Serangan tersebut dilancarkan ke beberapa objek vital, seperti istana kepresidenan, markas TNI, dan bandara Maguwo dengan sasaran utamanya adalah para pejabat tinggi Republik Indonesia. Presiden Soekarno, Wakil Presiden Muhammad Hatta, dan beberapa menteri kabinet ditangkap saat sidang kabinet berlangsung yang kemudian diasingkan ke luar Jawa.

Kondisi negara yang kacau ini dimanfaatkan oleh pihak Belanda untuk memperluas hegemoninya pada dunia Internasional. Belanda menganggap pemerintahan RI telah hilang semenjak Soekarno-Hatta diasingkan. Seiring berjalannya waktu, TNI melemah dan tidak dapat menjaga stabilitas keamanan sehingga kemiskinan yang cukup parah mengakibatkan pemerintah dianggap gagal mengelola negara.

Setelah Soekarna-Hatta diasingkan, Indonesia kian kacau. Sebagai satu-satunya pemimpin di Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono IX menyadari bahwa semangat prajurit dan rakyat kian merosot. Sultan Hamengku Buwono IX berinisiatif untuk melakukan serangan besar-besaran kepada Belanda. Serangan ini ditujukan untuk membangkitkan moral tentara dan rakyat yang dilancarkan sebelum dilaksanakannya sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Hal tersebut sekaligus menjadi momentum untuk menopang perjuangan diplomasi.

Dalam peperangan itu, Kota Yogyakarta saat itu berhasil diduduki oleh TNI selama 6 jam sampai dengan pukul 12.00, sesuai dengan apa yang telah direncanakan sebelumnya. Dengan berhasilnya Serangan Umum 1 Maret ini maka moril TNI semakin meningkat dan mampu mematahkan propaganda yang dilakukan Belanda.

Monumen Serangan Umum 1 Maret, terletak di Taman Budaya Yogyakarta. Dibangun atas prakarsa Pangdam VII/Diponegoro Mayjen Widodo, dipahat oleh Saptoto. Dan diresmikan pada 1 Maret 1973 oleh Presiden Soeharto untuk mengenang serangan 1 Maret 1949. Ketika peresmian monumen tersebut, semua sumber suara seperti sirine, lonceng gereja, dan bedug majid, dibunyikan selama satu menit untuk mengingat perjuangan saat itu.

Tempat Sekitar Malioboro Yang Lain

1. Taman Pintar

Bahasa Jawa: Hanacaraka,ꦠꦩꦤ꧀ꦥꦶꦤ꧀ꦠꦂꦔꦪꦺꦴꦒꦾꦏꦂꦠ, Taman Pintar Ngayogyakarta adalah wahana wisata yang terdapat di pusat Kota Yogyakarta, tepatnya di Jalan Panembahan Senopati No. 1-3, Yogyakarta, di kawasan Benteng Vredeburg. Taman ini memadukan tempat wisata rekreasi maupun edukasi dalam satu lokasi.

Sejak terjadinya ledakan perkembangan sains sekitar tahun 90-an, terutama Teknologi Informasi, pada gilirannya telah menghantarkan peradaban manusia menuju era tanpa batas. Menghadapi realitas perkembangan dunia semacam itu, dan wujud kepedulian terhadap pendidikan, maka Pemerintah Kota Yogyakarta menggagas sebuah ide untuk Pembangunan “Taman Pintar”.

Taman Pintar memiliki arena bermain sekaligus sarana edukasi yang terbagi dalam beberapa zona. Tempat ini, khususnya pada wahana pendidikan anak usia dini dilengkapi dengan teknologi interaktif digital serta pemetaan video yang akan memacu imajinasi anak serta ketertarikan mereka terhadap teknologi. Pada saat ini ada 35 zona dan 3.500 alat peraga permainan yang edukatif.

Akses langsung kepada pusat buku eks Shopping Centre juga menambah nilai lebih Taman Pintar. Tempat rekreasi ini sangat baik untuk anak-anak pada masa perkembangan.

Beberapa tahun ini Taman Pintar menjadi alternatif tempat berwisata bagi masyarakat Yogyakarta maupun luar kota. (sumber dari: wikipedia).

2. Masjid Siti Djirzanah

Selama ini kita sulit menemukan masjid di Malioboro untuk melaksanakan sholat. Namun sekarang jangan kuatir lagi. Jika anda hendak melaksanakan sholat ketika sedang berwisata di Malioboro. Anda bisa sholat di masjid Siti Djirzabah, masjid bercorak Tionghoa.

Masjid mungil tetapi megah berdiri tepat di depan Pasar Beringharjo. Tempat Masjid Siti Djirzanah di Jalan Margomulyo No 25 itu berdiri bagaikan oase, memadukan budaya yang telah lama hidup di Malioboro.

Arsitektur China dikarenakan aturan dari pemerintahan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Khususnya Dinas Kebudayaan bahwa lokasi masjid ini berdiri pada sumbu filosofi berdiri pada Malioboro. Sehingga ketika bangun masjid diharuskan bernuansa arsitektur China.

Nuansa di dalam masjid yang kental dengan nuansa Tionghoa. Ini terlihat relief masjid yang khas dengan ornamen bangunan China. Pada bagian depannya, dihiasi pula tulisan bahasa Arab, Mandarin (Qingzhensi), dan Inggris (Mosque) yang menandakan masjid agar mudah dipahami oleh beragam pengunjung Malioboro.

Ukuran masjid ini tidak terlalu luas, sehingga dibuat dua lantai. Lantai atas digunakan untuk jemaah laki-laki dan tempat imam. Adapun di lantai bawah tanah diperuntukkan khusus bagi jemaah perempuan. Sebagian lantai di bagian bawah juga disediakan tempat untuk mengambil wudu. Masjid ini bisa menampung 200-an orang.

Tak banyak yang mengetahui, pemilik masjid ini adalah Herry Zudianto, yang merupakan mantan Walikota Yogyakarta bersama kedua adiknya, Ellys Yudhiantie dan Rudi Sastyawan. Nama Siti Djirzanah itu diambil dari nama almaruhmah ibundanya, Siti Djirzanah yang telah meninggal pada tahun 2009 lalu.

Keinginan Herry Zudianto untuk membangun masjid di Malioboro datang secara spontan sekitar 2015 atau selepas ibundanya, Siti Djirzanah meninggal dunia. Bukan hanya sekadar bakti kepada ibundanya dengan membangun masjid Siti Djirzabah tersebut. Sebagai mantan orang nomor satu di Kota Jogja, dia memahami betul tingginya kebutuhan shalat bagi pengunjung dan masyarakat ketika beraktivitas di Malioboro.

3. Pasar Beringharjo

Pasar Beringharjo (bahasa Jawa: ꦥꦱꦂꦧꦼꦫꦶꦁꦲꦂꦗ, translit. Pasar Beringharjo) adalah pasar tertua dengan nilai historis dan filosofis yang tidak dapat dipisahkan dengan Keraton Yogyakarta. Beringharjo memiliki makna harafiah hutan pohon beringin yang diharapkan memberikan kesejahteraan bagi warga Yogyakarta. Letak Pasar Beringharjo di Jalan Jenderal Ahmad Yani nomor 16, Yogyakarta. Ada banyak jenis barang yang dapat dibeli di Pasar Beringharjo, mulai dari batik, jajanan pasar, uang kuno, pakaian anak dan dewasa, makanan cepat saji, bahan dasar jamu tradisional, sembako hingga barang antik. (sumber dari: wikipedia).

Wilayah Pasar Beringharjo pada awalnya adalah hutan beringin. Tidak lama setelah berdirinya Kraton Yogyakarta pada tahun 1758, wilayah pasar ini dijadikan tempat transaksi ekonomi oleh warga Yogyakarta dan sekitarnya. Ratusan tahun kemudian pada tanggal 24 Maret tahun 1925, Keraton Yogyakarta menugaskan Nederlansch Indisch Beton Maatschappij (Perusahaan Beton Hindia Belanda) untuk membangun los-los pasar. Pada akhir Agustus 1925, 11 kios telah terselesaikan dan yang lainnya menyusul secara bertahap.

Nama Beringharjo diberikan setelah bertahtanya Sri Sultan Hamengku Buwono VIII pada tanggal 24 Maret tahun 1925. Sri Sultan Hamngku Buwono VIII memerintahkan agar semua instansi di bawah naungan Kesultanan Yogyakarta menggunakan Bahasa Jawa. Dipilihnya nama Beringharjo karena memiliki arti wilayah yang semula hutan beringin (bering) yang diharapkan dapat memberikan kesejahteraan (harjo). Nama Beringharjo sendiri dinilai tepat karena lokasi pasar merupakan bekas hutan beringin dan pohon beringin merupakan lambang kebesaran dan pengayoman bagi banyak orang.

Hubungi Kami

Bagi anda yang hendak mengunjungi Jalan Malioboro untuk Paket Wisata Jogja acara: Outbound, Study Tour, Company Tour, Field Trip, Outing Class, Outbound Training, Family Gathering, dll dapat menghubungi kami di nomer telpon: 0819-5864-3820

Follow Us On

Shares